Header image  
General check up
 
 
    home
 
General check up

Mungkin memang menjadi wanita itu agak merepotkan. Waktu masih mahasiswi kadang kadang saya suka berfikir alangkah fleksibelnya teman teman pria ku, hampir dikatakan tidak ada hari-hari yang merepotkan setiap bulannya. Tidak ada hari datang bulan, belum lagi kalau berpakaian, alangkah enaknya mereka berpakaian sesuka mereka tanpa harus memakai ini itu sebelumnya. Mungkin karena ada iri itu pula dahulu sering saya menirukan cara berpakaian teman pria ku. Tapi walaupun demikian sekarang saya tidak pernah merasa menyesal menjadi wanita.
Hampir semua wanita, terutama yang sudah bekeluarga boleh dikatakan sedikitnya  selama hamil sampai melahirkan akan rutin pergi ke dokter specialist kandungan atau gynaecolog. Bagi saya dokter kandungan memiliki tempat sedikit berbeda denga dokter specilalist yang lainnya, saya selalu merasa ada sesuatu perasaan yang aneh setiap dokter kandungan menyentuh vagina saya. Setiap pemeriksaan kita rebahan di tempat tidur dengan kedua kaki menumpang di alat khusus sehingga selangkangan kaki terbuka lebar, persis seperti wanita akan melahirkan. Tapi terus terang saya tidak pernah melahirkan dengan memakai alat ini. Anak anak saya semua lahir dengan jalan operasi sehingga dalam hidup saya tidak pernah merasakan vagina yang diliwati bayi ketika lahir.
Kembali mengenai pemeriksaan oleh dokter kandungan, dengan memakai macam macam alat dokter memeriksa vagina. Ada alat yang berbentuk mulut bebek yang di masukkan ke vagina dan kemudian di benggangkan sehingga vagina terbuka lebar. Awal kehamilan saya agak takut dan belum terbiasa, tapi lama kelamaan biasa juga jadinya bahkan ada sedikit rasa enak sedikit, belum lagi kalau tangan dokter dan jari jarinya sudah masuk.... Tapi saya mulai merasakan sesuatu yang enak ketika diperiksa dokter itu malah setelah anak anak mulai besar.
Setahun sekali saya selalu melakukan general check-up dan juga checkup ke dokter kandungan tersendiri. Sebelum saya menemukan dokter yang cocok, saya selalu checkup dengan dokter yang ada saja. Tapi beberapa kali saya sempat minta check-up ke klinik dimana dokternya adalah bekas teman sma saya dulu. Awalnya teman saya ini ketika pertama kali saya berkonsultasi, dia agak malu dan merasa tidak enak hati untuk memeriksa teman lamanya yang lain jenis ini. Tapi dengan cara saya bicara, akhirnya dia mau juga. Setiap dia melakukan checkup vagina saya, kelihatan dia begitu tegang wajahnya, padahal saya sendiri santai saja. Belakangan baru saya tahu dari dia setelah dia cerita dan menolak dengan halus untuk memeriksa saya. Teman saya yang dokter ini bercerita bahwa setiap kali dia memeriksa saya, terasa begitu menegangkan bahkan sedikit membuat dia sebagai laki laki terangsang oleh saya, padahal dia mengakui setiap hari melihat dan memegang vagina pasiennya tanpa ada perasaan apa apa. Dia katakan tidak tahan mendengar tarikan nafas saya setiap diperiksa dia yang menurut dia mendekati suara mendesah, dan kenyataannya dia selalu bilang, setiap diperiksa dia, vagina saya mengeluarkan cairan bening kental seakan saya sedang terangsang. Saya terus terang ke dia memang setiap diperiksa saya meraksakan sesuatu yang enak dan relaks karena merasa teman yang memeriksanya dan sama sekali bukan bermaksud menggoda dia.
Setelah itu saya tidak pernah check-up lagi ke dia dengan maksud menghargai ungkapan dia. Kemudian saya dikenalkan oleh suami seorang dokter diamana dokter itu adalah teman lamanya. Ini pun awalnya seperti ketika teman saya juga, hanya saja dokter ini merasa tidak enaknya kepada suami. Dia bilang merasa tidak enak memeriksa istri sahabat dia walupun dia seorang dokter. Tapi akhirnya sempat beberapa kali saya check-up dengan dokter ini sampai saya terpaksa berhenti check-up dengan dokter ini karena kami sekeluarga pindah ke kota lain dan jauh dari sini.
Di tempat tinggal yang baru secara kebetulan terdapat klinik khusus kandungan yang letaknya tidak jauh dari rumah, dan enaknya jam prakteknya sampai malam sehingga bisa mengatur waktu datang ketika pasien tidak banyak, sehingga tidak perlu antri.
Pada check-up pertama kali, saya datang sore hari dan waktu itu pasien agak banyak dan sepertinya dokter ini cukup terkenal, dari pasien pasien yang muda sampai yang sudah cukup usia. Tetapi terlihat suster yang membantu dokter ini begitu sibuk karena merangkap juga sebagai administrasinya dan bekerja sendiri saja.
Karena saya pertama kali dan tidak buat janji terlebih dahulu, terpaksa saya mendapat nomer terakhir, dan baru dapat giliran antara jam tujuh dan delapan malam. Karena rumah tidak jauh dari klinik ini, suster di situ menyarankan pulang saja dahulu dan nanti datang lagi.
Sekitar jam setengah delapan malam saya kembali ke klinik itu. Di ruang tunggu sudah tidak ada pasien, dan ketika masuk suster segera menghampiri saya, katanya tinggal pasien yang ada di dalam saja dan sebentar lagi juga selesai.
Tidak lama kemudian pasien yang di dalam keluar dan saya di persilahkan masuk. Dilihat dari mukanya kelihatan dokter ini masih muda dan cukup tanpan. Itu saja sudah membuat perasaan aneh, karena merasa sebentar lagi vagina saya akan di sentuh dan di periksa dokter ini. Saya tidak langsung di periksa, tapi sedikit di wawancarai dahulu untuk bahan sejarah kesehatan saya, terutama yang menyangkut kandungan. Tadinya dokter ini agak kaku khawatir saya tidak dapat berbahasa daerah itu, karena dia merasa bahasa inggrisnya kurang bagus. Tapi setelah saya jawab dengan bahasa sana, dia langsung merasa lega.
Ketika saya sedang tanya-jawab dengan dokter, beberapa kali suster masuk ruangan praktek dan menyiapkan peralatan untuk pemeriksaan saya. Kemudian setelah itu dokter mengajak bicara suster sebentar, sepertinya menanyakan jadwal pasien hari ini dan di bilang jadwal hari ini sudah selesai. Karena memang sudah agak malam atau entah kenapa, dokter ini menawarkan suster untuk pulang duluan saja, karena dokter bilang dia hanya tinggal check-up saya saja.
Mendengar itu, saya mulai berpikir yang bukan bukan, merasa hanya berdua saja dengan dokter ini, dan bagaimana kalau nanti dokter muda ini iseng ke saya....
Bukan khawatir malah berharap sesuatu kejadian surprise terjadi, apalagi kemudian saya tahu dia tinggal dibangunan ini juga di tingkat atas.
Akhirnya saya dipersilahkan untuk melepas pakaian dan menuju meja pemeriksaan yang sudah tidak asing lagi bagi saya. Sementara saya membuka baju satu persatu, dokter ini masih sibuk mempelajari file saya di mejanya. Kemudian saya sedikit iseng menanyakan apakah semuanya di buka? Tapi dokter malah memberi option, boleh semua boleh tidak. Maksudnya rok saya tidak perlu di buka, cukup celana dalam saja. Tapi kemudian dia minta bagian atasnya saja dulu karena dia mau periksa payudara saya dulu, sambil dia menoleh ke saya yang waktu itu saya sudah terlanjur membuka rok, hingga tinggal celana dalam saja. Dokter muda itu sedikit tersenyum sambil mengatakan "ya sudahlah begitu saja dulu" karena mungkin lihat muka saya yang merasa sudah terlanjur di buka rok nya. Setelah beberapa kali saya di periksa dia, saya mengetahui dokter ini senang begurau dan membuat pasien bisa rileks.
Sementara saya rebahan, dokter dengan teliti memeriksa kedua payudara saya dengan tangannya meraba rama sekitar payudara. Terus terang saya begitu releks rasanya dan sedit demi sedikit mulai terangsang saya ketika tangan dokter menyentuk bagian payudara yang dekat dengan puting, tapi dokter ini tetap bekerja serius terlihat dari mukanya.
Kemudian saya di suruh duduk dan pemeriksaan terus berlanjut dan mememeriksa bagian samping payudara. Saya sadar bahwa saya terangsang dengan sentuhan jari jari dokter ini, terlihat puting saya semakin kencang mengeras dan menjadi begitu sensitif. Entah apakah dokter menyadari itu atau tidak.
Untuk merubah suasana, saya menanyakan hasil pemeriksaannya, dan dokter mengatakan tidak ada apa-apa semua baik-baik sambil sedikit menambah pujian yang katanya bentuk payudara saya masih indah walaupun sudah punya anak.
Kemudian saya disuruh tiduran lagi dan dia menawarkan untuk membantu membuka celana dalam saya yang bisa dilepas dari samping yang berupa simpulan tali. Saya agak malu juga ketika dokter melepas simpul tali celana dalam, karena saya memakai celana dalam yang begitu sexy yang bagian segitiganya transparant dan kecil bentuknya, tapi dokter sepertinya tidak begitu menghiraukan, dan kemudian saya diminta kakinya naik ke kedua penyanggah kaki sehingga selangkangan kaki terbuka lebar.
Dokter akan memeriksa bagian rahim dengan alat USG. Tapi saya agak sedikit heran juga kali ini, karena dokter sudah berada diantara kaki saya dan sudah berhadapan dengan mulut vagina saya. Biasanya USG itu dengan memakai alat seperti scaner yang digenggam dokter dan di gerak gerakkan di sekitat perut ke bawah dengan terlebih dahulu seputar perut diberi cream jelly agar scaner nya bisa bekerja dengan baik dan hasilnya ditampilkan dilayar monitor yang berada di dekat situ. Kalau sedang hamil biasanya hasil scan itu bisa terlihat di layar monitor bentuk dan posisi bayi di dalam kandungan.
USG dengan dokter ini agak berbeda peralatannya. Layar monitornya kira kira sama seperti biasanya hanya terlihat lebih banyak tombolnya dan terkesan changgih, tapi yang berbeda adalah alat scanernya. Bentuknya bulat panjang, permukaannya seperti terbuat dari bahan besi metalic, persis seperti bentuk penis, ukurannya juga boleh dibilang sama lah kurang lebih panjang dan diameternya. Kemudian dokter mengoleskan cream jelly di sekitar mulut vagina sehingga terasa licin. Terus dokter mulai memasukkan scaner itu perlahan lahan ke dalam vagina saya. Karena sudah diberi pelicin, alat itu mudah masuknya. Seperti penis yang masuk ke vagina saja. Rasanya seperti kalau saya memasukkan "mainan" yang berbentu penis kedalam vagina, tapi tentu saja alat ini lebih mulus dan halus permukaannya, tidak seperti mainan yang berpermukaan kasar dan menyerupai penis asli bergerak dan bergetar. Alat ini tidak bergetar atau bergerak, hanya terasa bergerak sedikit kesana kemari dan keluar masuk tergantung tangan dokter. Kemudian saya di suruh melihat ke layar monitor, dan terlihat remang remang bagian dalam rahim saya seperti USG pada umumnya. Sambil menggerak gerakankan scaner yang ada di dalam vagina, dokter menjelaskan satu persatu bagian organ yang ada di layar monitor ke saya.
Pada umumnya dokter mengatakan semuanya baik dan normal. Ketika dokter sedang menjelaskan yang ada di layar monitor awalnya saya memperhatikan layar itu, tapi kemudian pengelihatan saya bergeser ke muka dokter yang ada di dekat layar itu, saya menjadi terangsang dan merasakan sesuatu yang enak karena scaner yang di gerak gerakan dokter itu. Berkali kali saya memejamkan mata dan menarik nafas karena menahan diri dan takut dokter mengetahuinya, tapi badan saya tidak bisa dibohongi, terasa vagina mengeluarkan cairan karena terangsang dan saya malu kalau dokter tahu, terutama ketika dokter mau mencheck alat scanernya dan mungkin bermaksud menambah jelly nya, tapi kemudian tidak jadi karena dokter lihat sudah tambah licin. Tapi dokter ini cukup bijaksana dan tidak mau membuat malu pasiennya, dia berkata kira kira begini;
"Sepertinya anda begitu rileks dengan alat ini, terlihat banyak cairan dari vagina anda"
"tidak usah khawatir dan malu, ini normal dan ada beberapa pasien saya yang demikian ketika di periksa" kata dokter muda ini sambil tetap menggerak gerakkan scanernya.
Saya pun membalasnya dengan mengatakan bahwa baru pertama kali saya memakai scaner yang seperti ini, biasanya memakai yang dari atas perut. Dokter itu seperti memahaminya, dia mengangguk angguk sambil tersenyum dan kemudian menanyakan enak yang mana....
Dengan polos saya bilang ke dokter bahwa rasanya seperti sedang memakai mainan penis, tapi yang ini lebih halus, dokter pun tertawa dengan jawaban saya itu. Suasana menjadi semakin akrab dengan dokter ini. Kemudian dia meneruskan pemeriksaan vagina dengan memakai alat seperti mulut bebek yang kemudian dapat di benggangkan setelah masuk ke vagina, sehingga dokter mudah melihat vagina saya. Dokter juga sempat memperlihatkan cairan vagina yang keluar tadi yang banyak melekat di sarung tangan plastiknya, dari dekat dia mengatakan cairan ini juga terlihat bagus dan sehat.
Tidak lama setelah itu pemeriksaan pun selesai dan saya boleh berpakaian lagi, sementara itu dokter mencuci tangannya. Bra dan celana dalam sengaja tidak saya pakai, biar cepat dan juga tidak enak kalau pakai celana dalam karena vagina sudah basah dengan crema jelly dan cairan saya. Kemudian saya duduk di depan meja dokter untuk mendengarkan hasil pemeriksaannya. Dokter katakan semuanya bagus dan normal, hanya ada satu test yang perlu tunggu hasilnya beberapa hari karena mau dibawa ke Lab. Kemudian sebelum keluar kamar praktek dokter menanyakan dengan nada menebak bahwa saya belum pernah melahirkan normal. Saya mengangguk sambil bertanya memangnya kenapa ke dokter itu, kemudian dokter muda itu mengatakan vagina saya masih bagus bentuknya....
Saya jadi malu dan ada rasa senang rasanya di puji demikian. Kemudian saya diantar pulang sampai ke pintu luar klinik, karena sekalian dokter mau menutup dan mengunci kliniknya.
Sejak itu saya rutin melakukan check-up ke klinik itu setiap enam bulan sekali walaupun sebenarnya dianjurkan cukup setahun sekali, dan setiap ke sana saya selalu memilih giliran paling akhir. Pakaian dalam yang saya pilih juga tertentu yang begitu sexy dan bagus dilihat, karena saya tahu dokter itu akan melihatnya ketika akan memeriksa.
Sehabis di periksa pun kadang saya masih mengobrol bermacam macam dengan dokter di ruang prakteknya sehingga semakin akrab saya dengan dokter ini. Pernah juga terjadi hal-hal yang menegangkan dan membuat dokter itu tergoda walaupun hanya sebatas melihat dan sedikit menyentuh dan saya merasa walaupun dia seorang dokter tapi tetap dia sebagai seorang pria.
Pernah juga saya bersama dokter ini pergi makan malam ketika suami sedang dinas ke luar, tapi tentu tidak terjadi apa-apa karena saya ingin tetap menghormati dokter ini dan saya adalah pasien nya...